Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2016 = 4,43 (skala 0-5) | Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 2016 = 79,83 | Apa itu gratifikasi? Mari mengenal untuk menghindari      ***       Menemukan indikasi tindak korupsi? LAPORKAN !!
[show]  [hide]  [show-banner]
workimg

Workshop Pengemasan Produk BEKRAF – BPTBA LIPI

BULAN TEKNOLOGI BPTBA LIPI TAHUN 2017

 

Yogyakarta – Jum’at, 8 September 2017, Pkl. 13:00 WIB, rangkaian pelaksanaan Puncak Acara Bulan Teknologi Tahun 2017, Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Gunungkidul bersama Kedeputian Riset, Edukasi dan Pengembangan – BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) mengadakan kegiatan Workshop Pengemasan Produk. Acara dihadiri oleh Deputi IPT (Ilmu Pengetahuan Teknik) LIPI Laksana Tri Handoko, Deputi BEKRAF – Bidang Riset, Edukasi dan Pengembangan Bpk. Abdur Rohim Boy Berawi, Direktur Utama BRI Syariah Bpk. Moch. Hadi Santoso, Anggota GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia) Ibu Betsy Monoarfa dan Kepala BPTBA LIPI Hardi Julendra, S.Pt., M.Sc.

Deputi BEKRAF – Bidang Riset, Edukasi dan Pengembangan Bpk. Dr. Ing. Abdur Rohim Boy Berawi dalam pembukaan menyampaikan acara ini merupakan suatu sinergisme dan kolaborasi antar lembaga pemerintah dan even ini mudah-mudahan dapat terlaksana kedepannya, “ucapnya. Ia melanjutkan bahwa ekonomi kreatif menjadi tulang punggung ekonomi dan perekonomian di Indonesia, dari pelatihan ini agar dapat bermanfaat bagi bapak/ibu semuanya dan dapat meningkatkan kualitas produk dan jasa yang ada, “ucapnya.

Pada sesi pertama, Deputi IPT (Ilmu Pengetahuan Teknik) LIPI Bpk. Laksana Tri Handoko memaparkan presentasi yang bertema tentang “Kebijakan Riset IPT LIPI Untuk Mendukung Pengembangan UKM”. Paparan berisikan mengenai LIPI sahabat UKM, Infrastruktur Teknologi, Alat, Teknologi dan Lisensi untuk membantu dan mengembangkan UKM. Audiensi diisi dengan berbagai pertanyaan dari Usaha/UKM yang hadir, Slamet Riyadi (Gatot Tiwul Yu Tum) bertanya tentang produk, produk yang dipress hanya bertahan 2-3 hari bagaimana caranya produk tersebut dapat bertahan lama tanpa dipress ?, anggota Kelompok Konsumen Sadar Gunungkidul bertanya tentang pangan lokal, umbi-umbian dan singkong, bagaimana cara menghilangkan racun pada umbi gadung, menghilangkan bau dan bagaimana cara mendapatkan bahan baku, “tanyanya, Litbang Jawa Tengah bertanya mengenai desa inovasi dan masyarakat, LIPI di Gunungkidul agar dapat memberikan semacam pelatihan di Jateng dan bagaimana akses ke LIPI Gunungkidul, “ucapnya. Diteruskan dengan pertanyaan dari Ibu Susi (Dinas Pertanian, Pangan dan Kehutanan Kab. Sleman) yang mengatakan keberadaan LIPI yang ada di Gunugkidul dan Sleman yang tidak diperhatikan yang digarap hanya wilayah Gunungkidul, “ucapnya bercanda. Dilanjutkan dengan pertanyan dari Bpk. Purwosa mengenai prosedur kerjasama dengan LIPI bagaimana  beserta akses teknologinya tentang pengawetan gabah di dalam lumbung. Di tengah pertanyaan dari para UKM, Bpk. Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa “datang saja ke Gunungkidul, untuk akses teknologi, untuk lisensi yang memiliki kepastian hukum sehingga tidak ada komplain dari pihak lain, silakan datang saja, “ucapnya. Diteruskan oleh Ibu Sri  (CV. Cahaya Jiwa Sejahtera) yang memiliki produk milu siram dari Gorontalo, ia mengutarakan bekerjasama dengan LIPI, bertemu, dicek dan dikembangkan untuk biaya yang tidak sedikit, produk ini hanya bisa bertahan beberapa jam sebelumnya, sebelum diawetkan oleh LIPI – Canning, “ucapnya. Kemudian ia melanjutkan bagaimana langkah selanjutnya untuk mempromosikan produk kami, “ucapnya. Pertanyaan di sesi pertama ini diakhiri oleh Sdr. Tanto Kulinerpreuneur Jateng-DIY mengenai terdapatnya kendala dalam masalah pengawetan pada produk, ex : sambal, ikan dan ayam. Ia melanjutkan pertanyaan bagaimana membuat produk murah, terjangkau dan awet, “ucapnya.

Pada akhir sesi pertama, Hardi Julendra menyampaikan ke Usaha/UKM bahwa kami menerima dengan senang hati untuk kegiatan pengembangan IPTEK di Jawa Tengah, Sleman dan daerah-daerah lainnya, ia mengatakan silakan saja bapak/ibu menyampaikan masalah-masalah terkait dengan kegiatan usaha di tempatnya. Sesi kedua dilanjutkan dengan paparan mengenai “Program Dan Strategi BRI Syariah Dalam Mendorong Kapasitas Bank Syariah, dengan Narasumber Bpk. Moch. Hadi Santoso yang memaparkan profil bank, perkembangan dan perbandingan dengan bank konvensional lalu diteruskan Bpk. Fadjar Hutomo yang membahas mengenai “Akses Permodalan di BEKRAF”. Kegiatan workshop berlangsung selama 2 hari tgl. 8 s/d 9 September 2017, di Hotel HOM Platinum Yogyakarta, Jln. Gowongan Kidul – Sosromenduran./De

|


Artikel Sejenis