• Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2017 = 3,82 (skala 0-4) || • Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 2017 = 81,16 | Apa itu gratifikasi? Mari mengenal untuk menghindari      ***       Menemukan indikasi tindak korupsi? LAPORKAN !!
[show]  [hide]  [show-banner]
workimg

Infovet : Merapi Erupsi, (Masihkah) Silase jadi Solusi

 

Ketahanan pakan bukan melulu soal sukses menyediakan, tetapi juga soal kemampuan bertahan menghadapi segala kemungkinan

 

Teknologi silase, terdengar bukan sebagai penemuan kekinian. Puluhan tahun yang lalu teknologi ini sudah diperkenalkan, khususnya di negara-negara subtropis dengan 4 pola musim. Bagi mereka, silase hijauan pakan ruminansia adalah keniscayaan untuk ketahanan pakan di musim dingin, dimana sulit ditemukan cadangan pakan hijauan di lahan yang tertutupi salju.

 

Hijauan Fermentasi di Indonesia

Di Indonesia, teknologi silase atau yang biasa disebut hijauan pakan fermentasi, didengungkan sebagai solusi mengatasi kerawanan hijauan di musim kemarau. Namun, realita di lapangan hingga kini, jarang ditemukan peternak dan kelompok peternak yang secara masif memproduksi silase sebagai kebutuhan pokok untuk mempertahankan ketahanan pakan. Berbagai penyuluhan yang diberikan kepada mereka, dari tahun ke tahun, tidak diimplementasikan secara berkesinambungan. Hal ini bisa jadi disebabkan karena memang kayanya negara kita Indonesia. Berbagai jenis hijauan pakan mudah ditemukan dan tumbuh subur. Bahkan beberapa daerah disebut sebagai lumbung pakan hijauan. Kondisi kekeringan di musim kemarau pun dianggap masih aman, karena masih bisa ditemukan beberapa spesies tanaman tahan kering seperti lamtoro, ada masih cukupnya suplai hijauan yang didatangkan dari daerah lumbung pakan. Sehingga lumrah, bila masyarakat masih enggan memproduksi silase terus menerus sebagai kebutuhan, karena menambah biaya produksi mereka.

Berbeda dengan masyarakat peternak, justru industri peternakan ruminansia yang kerap memanfaatkan teknologi silase untuk efisiensi produksi pakan. Limbah industri pertanian kerap di-mix dengan berbagai bahan pakan sumber serat, untuk difermentasi menjadi silase komplit. Satu jenis ransum komplit tersebut lebih menjamin ketersediaan pakan sepanjang musim produksi, menjamin kestabilan kualitas pakan, serta efisiensi penggunaan tenaga kerja.

 

Tantangan Kerawanan Pakan Hijauan

Urgensi ketersediaan pakan di Indonesia, khususnya pulau Jawa, bukan lagi hanya disebabkan karena semakin menurunnya jumlah lahan hijauan pakan yang tergerus cepatnya arus pembangunan pemukinan dan industri, namun juga karena faktor bencana alam. Betul, negara kita memang harus bersahabat dengan alam dan memahami bahwa wilayah kita adalah wilayah rawan bencana. Gempa bumi dan tanah longsor, serta banjir mampu meluluh-lantakkan lahan pertanian. Demikian juga dengan gunung meletus. Awal Mei kemarin, Yogyakarta dan sekitarnya kembali merasakan hujan abu akibat erupsi freatik Gunung Merapi. Abu yang dikeluarkan gunung berapi terbang dan menyelimuti seluruh kehidupan, termasuk ke lahan pertanian. Kondisi ini mengingatkan pada erupsi Gunung Kelud dan Merapi beberapa tahun sebelumnya, yang terjadi hingga lebih dari 3 hari. Namun, pengaruh dari abu vulkanik yang menempel pada permukaan tanaman bertahan hingga sebulan lebih, yang menyebabkan gagal panen dan kelangkaan hijauan pakan. Peternak ruminansia mengeluhkan kondisi ini, dimana palatabilitas ternak terhadap hijauan pakan tercemar abu vulkanik menurun drastis. Saat itu, penggunaan konsentrat ditingkatkan untuk mengganti kehilangan nutrien hijauan yang tidak terkonsumsi. Akibatnya peningkatan biaya pakan menjadi tak terhindarkan.

Alasan kepemilikan rojo koyo seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba oleh peternak di pedesaan, lebih sebagai ternak tabungan, yang siap diuangkan bila mereka membutuhkan uang. Faktor hitung-hitungan produksi belum menjadi konsen pokok, apalagi efisiensi prosesnya. Sehingga wajar bila teknologi sederhana silase tidak tersentuh secara berkesinambungan. Namun, hampir di setiap daerah, para peternak menghimpun diri dalam kelompok peternak, yang memperhatikan struktur organisasi dan menjalankan unit usaha. Kelompok ini mampu menjembatani peternak dengan segala keterbatasan yang tidak bisa diraih bila dilakukan sendiri-sendiri, termasuk di dalam usaha mempertahankan ketahanan pakan sepanjang musim dengan biaya yang semakin efisien. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan dibentuknya unit usaha produksi hijauan fermentasi.

Beberapa konsep dapat diterapkan. Misal, peternak yang umumnya mempunyai lahan hijauan, meski terbatas, dapat menyetor kelebihan hijauan pada musim berkelimpahan hijauan (misal saat penghujan) kepada unit usaha di kelompok. Kemudian, unit usaha tersebut memproduksi hijauan fermentasi dari bahan baku yang dibeli dari peternak, atau dapat kulakan dari daerah lumbung hijauan pakan. Peternak dapat kembali memanfaatkan hasil panen hijauan fermentasi yang diproduksi oleh kelompok mereka, setiap saat, terutama pada saat kesulitan mendapatkan hijauan segar seperti pada saat musim kemarau, bahkan saat terjadinya hujan abu vulkanik. Pembelian pun dapat dilakukan dengan cara kekeluargaan yang mengedepankan kebijakan masing-masing kelompok, seperti pembelian secara tunai, pembayaran dengan harga dipotong setoran bahan baku hijauan, atau pembayaran kredit yang dibayar berkala atau menggunakan pupuk kandang.

Konsep kerakyatan seperti ini perlu dikelola oleh pengurus yang mengerti aspek usaha, aspek teknologi yang digunakan, yang juga akan mendapatkan hasil dari unit usaha yang dikelolanya untuk kesejahteraan mereka juga. Sehingga, dapat tercipta kondisi saling membantu dalam rangka efisiensi produksi yang dilakukan secara komunal antara peternak dan pengurus kelompok, bukan lagi berjuang sendiri-sendiri.

 

Contoh Fakta Menarik di Indonesia

Sebagai contoh di D.I. Yogyakarta, jumlah ternak ruminansia tercatat pada tahun 2013 (Dinas Pertanian DIY) di Kabupaten Gunungkidul mencapai 40% dari total ruminansia di DIY (Tabel 1), jauh lebih tinggi dari Kabupaten Sleman yang hanya mencapai 18% dari total ruminansia di DIY. Keadaan ini berbanding terbalik dengan luas lahan pertanian sawah yang notabene menyumbang hijauan dan sisa pertanian sebagai sumber pakan hijauan (Tabel 2). Karena ironisnya, Kabupaten Gunungkidul hanya mempunyai luas lahan pertanian sawah 14% dari total sawah di DIY, sementara Sleman mempunyai sawah paling luas hingga mencakup 40%. Ditambah lagi bahwa sebagian besar sawah di Kabupaten Gunungkidul merupakan sawah tadah hujan, yang mengalami masa-masa bero. Hal ini mengindikasikan bahwa ada indikasi kerawanan pakan hijauan di Kabupaten Gunungkidul. Dan wajar saja, bila lazim kita temui truk-truk pengangkut tebon (tanaman) jagung dan rumput raja datang ke kabupaten yang mempunyai kontur berbukit-bukit ini setiap harinya.

Faktanya, setiap musim kelangkaan pakan hijauan, hampir seluruh peternak di Kabupaten Gunungkidul tidak enggan untuk membeli hijauan yang didatangkan dari kabupaten tetangga, dengan harga 2-3 kali lipat lebih mahal dibanding jika mereka bisa menanam sendiri. Berdasarkan perhitungan penulis dan pengalaman pendampingan di lapangan, kelompok peternak yang mau memproduksi silase bagi kebutuhan anggota kelompoknya, mampu menekan biaya pakan hijauan hingga separuhnya, dibanding bila para anggota membeli hijauan segar secara eceran di pedagang hijauan. Hal ini karena, sub unit yang dimiliki kelompok dapat memotong jalur pemasaran hijauan pakan dengan membeli (kulakan) hijauan dari daerah lain dengan tonase yang lebih besar, dan dapat dipergunakan anggota di setiap saat, sehingga meningkatkan nilai produk dari segi waktu pemanfaatan, dengan harga per kilogram menjadi lebih rendah.

 

Silase (Masih) sangat Berpotensi

Silase hijauan pakan bukan lagi komoditas internal kelompok peternak, namun kini merambah menjadi komoditas bisnis di hulu peternakan ruminansia. Para pengusaha penggemukan, stocking untuk pemotongan, serta qurban dan aqiqah service akan berpikir dua kali untuk menanam hijauan sendiri. Mereka lebih memilih membeli hijauan fermentasi (jika ada), bahkan dibanding dengan membeli hijauan segar yang mempunyai masa simpan hijauan terbatas (hanya 1-2 hari). Beberapa orang sudah menangkap peluang ini, seperti Kabupaten Magelang yang mempunyai sumber daya rumput luar biasa tinggi, yang mulai menjual hijauan silase ke D.I. Yogyakarta.

Kembali ke silase itu sendiri. Silase hijauan dianggap dapat menjawab tantangan kerawanan pakan hijauan. Membantu peternak menyediakan pakan hijauan berkualitas, berkesinambungan, sepanjang masa, dan menjadi teknologi terapan yang mampu menjawab tantangan bencana alam, keterbatasan lahan hijauan, dan tuntutan efisiensi sistem usaha peternakan. Jadi sudah tidak ada lagi cerita ketika turun hujan abu vulkanik, lalu sapi dan domba tidak makan, bukan? Jayalah peternak Indonesia.

 

LAMPIRAN TABEL

 

Tabel 1. Jumlah ternak ruminansia D.I. Yogyakarta 2013

Kabupaten/Kota

 Jumlah Ternak Ruminansia

D.I. Yogyakarta Th. 2013** (ekor)

 Sapi Potong

Sapi Perah

Kerbau

Kambing

Domba

Total

Kab. Kulonprogo

45.595

    150

120

89.725

22.062

157.652

Kab. Bantul

50.552

    153

271

74.462

52.085

177.523

Kab. Gunungkidul

138.134

      35

45

171.530

10.918

320.662

Kab. Sleman

38.216

 3.954

 541

33.625

71.412

147.748

Kota Yogyakarta

297

     34

5

388

383

1.107

Total D.I. Yogyakarta

272.794

4.326

 982

369.730

156.860

804.692

**Dinas Pertanian D.I. Yogyakarta

 

Tabel 2. Luas lahan pertanian 2016 D.I. Yogyakarta

Kabupaten/Kota

Luas Lahan Pertanian 2016 Daerah Istimewa Yogyakarta* (ha)

Sawah

Bukan Sawah

Kab. Kulonprogo

10.366

34.933

Kab. Bantul

15.150

12.923

Kab. Gunungkidul

7.875

117.332

Kab. Sleman

21.841

20.617

Kota Yogyakarta

60

16

Total D.I. Yogyakarta

55.292

185.821

*Badan Pusat Statistik D.I. Yogyakarta

 

Awistaros A. Sakti, 2018

Peneliti Bidang Pakan dan Nutrisi Ternak

LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (LIPI)

 

Sumber : Majalah Infovet Edisi 288 - Juli 2018

|


Artikel Sejenis