• Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2017 = 3,82 (skala 0-4) || • Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 2017 = 81,16 | Apa itu gratifikasi? Mari mengenal untuk menghindari      ***       Menemukan indikasi tindak korupsi? LAPORKAN !!
[show]  [hide]  [show-banner]
workimg

Kunjungan Studi Banding PUI (Pusat Unggulan IPTEK) - P2ET LIPI

Gunungkidul – Kamis, 20 September 2018, Pkl. 09:00 WIB, Peneliti dan Staff Pegawai – Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia berkunjung ke Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Gunungkidul. Kunjungan bertujuan untuk melakukan studi banding dalam rangka Kegiatan PUI (Pusat Unggulan IPTEK), melakukan penjajakan dan memperhatikan bagaimana kegiatan PUI (Pusat Unggulan IPTEK) di BPTBA LIPI dilaksanakan, sebagai masukan nantinya untuk melangsungkan Kegiatan PUI (Pusat Unggulan IPTEK) di P2ET LIPI sekaligus membuka peluang dan kemungkinan bagi kedua Satker untuk melakukan sinergi dalam PUI (Pusat Unggulan IPTEK).   

Rombongan peneliti dan staff pegawai berjumlah 11 orang diterima oleh Kepala BPTBA LIPI Bpk. Hardi Julendra beserta staff dan peneliti. Rombongan mengikuti presentasi oleh Peneliti Bidang Pangan (Pengembangan Makanan Lokal Tradisional)-Ibu Ervika Rahayu, paparan berisikan Evaluasi PUI (Pusat Unggulan IPTEK) BPTBA LIPI dalam Teknologi Pengemasan Makanan Tradisional Tahun 2017, Sinergi PUI, penjelasan mengenai kegiatan Hilirisasi, diantaranya pameran di Belanda dan hilirisasi produk empal gentong dan juga kegiatan diseminasi (Disseminating Capacity) yang dilakukan BPTBA LIPI. Audiensi dan diskusi diisi dengan bahasan mengenai berbagai kegiatan dalam PUI, Ibu Lia Muliani Pranoto (Peneliti P2ET LIPI) mengatakan ‘kami tertarik sekali dengan program PUI di BPTBA LIPI’, ia lalu meneruskan dengan membahas bagaimana mengenai sistem penilaian PUI dalam periode bulan atau tahun, kemudian dilanjutkan dengan membahas kegiatan diseminasi.

Diskusi dilanjutkan dengan membahas ketahanan material kaleng terkait dengan korosi yang sering disebabkan oleh cairan dan bagaimanakah ketersediaan kaleng tersebut. Hal ini dijawab oleh Peneliti Bid. Pangan BPTBA LIPI – Bpk. Agus Susanto, “untuk ketersediaan kaleng kita beli ke pabrik, untuk korosi adalah wilayah tanggung jawab pabrik, semua diserahkan ke pabrik, kaleng dibeli dari Cometa Can”. Diteruskan oleh Peneliti Bid. Pangan BPTBA LIPI-Anissa Kusumaningrum terkait cemaran logam pada kaleng, ia berujar “setelah karantina, kaleng diujikan ke Balai Besar Industri Agro Bogor”. Kemudian datang pertanyaan dari peneliti P2ET LIPI mengenai apa kira-kira yang dapat disinergikan dengan BPTBA LIPI, P2ET memiliki sensor dan lain sebagainya. Hal ini direspon Bpk. Hardi Julendra dengan menyampaikan mungkin sinergi dengan P2ET dapat dilakukan pada uji masa simpan untuk expire, tekstur, rasa dan lain-lain, supaya hal ini bisa dipadukan ilmunya, “ujarnya. Ervika Rahayu juga meneruskan tentang sinergi dengan P2ET LIPI terkait dengan material, uji, analisa, uji logam dan migrasi kemasan, ia menyampaikan “kami disini terdapat kekurangan pada sisi material pada kaleng”.

Diskusi berikutnya membahas pertanyaan tentang bagaimana persiapan dan pembinaan dalam PUI, apakah mulai dari nol atau bagaimana, hal ini lalu dijawab oleh Hardi Julendra “kita mulai dari indikator, terdapat kekurangan dan kelebihan, kelemahan kita cari implikasinya adalah strategi kita, misal pada anggaran”, ia meneruskan terkait dengan PUI ini, kita juga sudah biasa melakukan diseminasi, “ucapnya. Bahasan terakhir yaitu pertanyaan tentang bagaimana cara mendapatkan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) dan pembinaan terhadapnya. Agus Susanto menjawabnya dengan mengatakan “UKM datang sendiri karena membutuhkan bantuan kita di Bidang IPTEK, teknologi Canning memang merupakan pekerjaan kita dari sebelumnya, sebelum ada program PUI ini”./De

|


Artikel Sejenis