• Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2017 = 3,82 (skala 0-4) || • Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 2017 = 81,16 | Apa itu gratifikasi? Mari mengenal untuk menghindari      ***       Menemukan indikasi tindak korupsi? LAPORKAN !!
[show]  [hide]  [show-banner]
workimg

Anthelmentika Alami Hijauan Pakan

 

Oleh: Awistaros A. Sakti

Peneliti Bidang Pakan dan Nutrisi Ternak

LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (LIPI)

 

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Peternakan,

Fakultas Peternakan, UNIVERSITAS GADJAH MADA

 

Kearifan lokal peternak memanfaatkan pakan dedaunan (Jawa: ramban), secara tidak langsung melindungi ternak mereka dari serangan parasit

dan resiko resistensi obat cacing komersial

 

Cacing merupakan salah satu parasit yang ditemukan di tubuh ternak ruminansia, dengan menyerang berbagai organ tubuh ternak yang sebagian besar menyerap darah ternak inangnya melalui permukaan organ tubuh. Sebut saja Haemonchus contortus, salah satu nematoda yang sering ditemukan pada kambing, domba dan sedikit ditemukan pada sapi. Habitat cacing ini di abomasum, salah satu kompartemen lambung ruminansia, sehingga disebut juga cacing lambung. Tanda-tanda klinis yang digunakan untuk memprediksi infestasi cacing ini adalah anemia (Eguale et al., 2007). Anemia dapat menyerang dengan cepat pada ruminansia dan beresiko kematian. Hal ini menimbulkan gangguan produksi dan beresiko meningkatkan kerugian peternak. Salah satu cara paling efektif adalah dengan pemberian obat cacing (anthelmentika) secara rutin di kandang, yang tentunya merupakan bagian dari biaya produksi tersendiri, serta dilakukannya rotasi padang gembalaan untuk memutus siklus hidup cacing di permukaan tanah (Coles et al., 2006).

 

Resistensi Cacing terhadap Anthelmentika telah Ditemukan

di seluruh Penjuru Dunia

Dilaporkan telah terjadi resistensi cacing H. contortus terhadap anthelmentika sintetis komersial hampir di seluruh negara di dunia (Odhong et al., 2014; Hoste et al., 2015), yang menyerang sistem pencernaan ternak ruminansia dan meningkat dari tahun ke tahun, seiring tuntutan penggunaan obat cacing yang merupakan bagian penting dari penanggulangan penyakit cacingan pada ternak ruminansia (Haryuningtyas, 2008). Adanya resistensi ini menyebabkan peningkatan dosis penggunaan anthelmentika komersial seperti albendazole, benzimidazole, tetrahydropyrimidines, dan obat cacing lainnya, sehingga biaya produksi ikut terangkat naik. Mirip dengan konsekuensi penggunaan antibiotik sintetis pada pakan unggas dan ikan. Tentu saja ini tidak dapat dibiarkan, demi terjaganya efisiensi usaha peternakan. Hal ini membuat industri peternakan ruminansia mulai beralih mengurangi penggunaan anthelmentika kimia, dan menggantinya dengan tanaman yang berpotensi sebagai antiparasit, di luar fungsinya sebagai pakan hijauan ruminansia.

Kerugian lebih besar dirasakan bagi peternak dengan pola pemeliharaan padang gembala, dimana domba dapat mengakses langsung rerumputan dan tanaman di lahan terbuka. Larva cacing ikut terkonsumsi dan hidup di abomasum, tumbuh menjadi cacing dewasa dan menghisap darah ternak inangnya. Telur cacing yang dikeluarkan melalui feses dapat dijadikan parameter seberapa besar ternak terinfeksi. Kejadian nematodiasis untuk ternak di padang gembala dapat ditekan dengan introduksi tanaman mengandung senyawa metabolit sekunder. Selain berfungsi sebagai antiparasit, tanaman ini dapat pula sebagai suplementasi protein pakan ruminansia. Kendala serangan cacing jarang ditemukan pada sistem pemeliharaan semiintensif di kandang, dengan pola pemberian pakan cut and carry serta pemberian pakan tinggi protein dikombinasikan dengan tanaman kaya tanin (Athanasiadou et al., 2001), karena akses ternak terhadap habitat larva cacing ketika menyenggut rumput dapat dihindari.

 

Local Wisdom sebagai Solusi

Beberapa peneliti telah melakukan kajian sifat antiparasit terhadap berbagai tanaman lokal di Indonesia. Suplementasi rumput dengan daun singkong dan daun serta biji buah pepaya, dapat meningkatkan asupan nutrien dan mampu menekan parasit saluran cerna (Adiwimarta et al., 2010; Odhong et al., 2014). Hal ini ditunjukkan juga pada daun mimba, kersen, mengkudu, tembakau, nangka, waru, dan gamal. Limbah pertanian juga turut menyumbang peran sebagai anthelmentika alami untuk domba, seperti cairan serbuk kulit nanas 250mg/kg berat badan domba (Beriajaya et al., 2005).

Gambar 1. Tiga tahapan kunci dari siklus hidup cacing sebagai target utama anthelmentika alami dari berbagai hijauan pakan

Sumber gambar: Hoste et al. (2015)

 

Peran tanaman mengandung senyawa metabolit sekunder yang bersifat antiparasit terhadap nematoda, dapat dilihat terhadap 3 tahap siklus hidup cacing (Gambar 1). Pertama, menurunkan jumlah telur cacing yang dikeluarkan ternak bersama feses. Kedua, menurunkan jumlah larva stadium tiga (L3) yang dimungkinkan terkonsumsi ternak, dan yang ketiga adalah menekan perkembangan telur cacing menjadi larva stadium tiga (Hoste et al., 2015).

Jika kita perhatikan, peternak kita secara naluriah berdasarkan pengalaman dari generasi ke generasi, telah mempunyai acuan dalam pola pemberian pakan. Meskipun domba dipelihara dengan digembalakan, sesekali mereka memberikan dedaunan (Jawa: ramban) sebagai pakan tambahan. Peternak di dataran tinggi, dengan ketersediaan pakan ramban melimpah dibanding rumput, sering menggunakan tanaman legume kaya protein dan senyawa metabolit sekunder  antiparasit seperti gamal (Gliricidea maculate), lamtoro (Leucaena leucocepala), limbah tanaman kacang tanah dan kedelai, dan daun singkong sebagai pakan basal pendamping rumput. Atau pun daun nangka, beringin, waru, jambu, dan kersen (Muntingia calabura) sebagai pakan tambahan. Ketika ditemukan ternak yang cacingan dan diare, solusi yang mereka berikan adalah memberikan dedauan tersebut sebagai pakan hijauan tambahan. Tampaknya solusi obat cacing jarang ditempuh peternak dengan skala kepemilikan di bawah 5 ekor. Bagi peternak yang mengandalkan ternak mereka sebagai sumber pendapatan utama, pemberian obat cacing diimbangi dengan sistem pemeliharaan semiintensif (dikandangkan), sehingga menekan akses ternak terhadap habitat larva cacing di rerumputan. Jarang ditemukan di Indonesia, peternak domba skala besar dengan pola padang gembala seperti di New Zealand dan Eropa yang membutuhkan rutinitas pemberian obat cacing sebagai langkah preventif dan pengobatan, selain introduksi legume yang berpotensi sebagai anti parasit. Oleh karena itu, bagi peternak kecil di Indonesia, mempopulerkan kearifan lokal (local wisdom) masyarakat dalam memanfaatkan tanaman lokal Indonesia sebagai antiparasit, dianggap sebagai langkah tepat dan efisien untuk menekan kejadian nematodiasis.

 

Kembali ke Alam, Kembali ke Peternak

Resiko resistensi cacing terhadap obat cacing komersial yang terjadi di segala penjuru dunia patut diwaspadai dan diantisipasi. Jangan sampai peternak kita tidak efisien dalam memelihara ternaknya, juga karena rendahnya produktifitas ternak karena kasus nematodiasis. Masuknya teknologi pengobatan dengan obat cacing sintetis komersial, tidak serta merta memberikan dampak perbaikan. Dimungkinkan peternak abai dan melupakan, bahwa potensi hijauan alam kita sangat luar biasa. Kebiasaan mereka memberikan aneka hijauan pakan untuk ternak domba dan kambing, menyiratkan nilai ilmiah dari solusi permasalahan yang mereka hadapi. Tinggal bagaimana para akademisi dan peneliti mentransfer kearifan lokal tersebut ke dalam numerik ilmiah, sehingga apa yang diterapkan peternak dari kebiasaan mereka selama ini, dapat mempresentasikan nilai-nilai ilmiah yang mendukung kesinambungan usaha peternakan mereka, juga secara tidak langsung menjaga asa para peternak untuk semakin sejahtera.

 

Awistaros A. Sakti, 2017

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adiwimarta, K., J. Daryatmo, E.R. Orskov., R.W. Mayes, and H. Hartadi. 2010. Utilisation of Cassava Leaf and Carica papaya Leaf as Feeds and Anthelmintic for Goats. Proceedings of the British Society of Animal Science and the Agricultural Research Forum. 1: 114.

Athanasiadou, S., I. Kyriazakis, F. Jackson, and R.L. Coop. 2001. The Effect of Condensed Tannins Supplementation of Foods with Different Protein Content on Parasitism, Food Intake and Performance of Sheep Infected with Trichostrongylus colubriformis. British Journal of Nutrition. 86: 697 – 706.

Beriajaya, J. Manurung, dan D. Haryuningtyas. 2005. Efikasi Cairan Serbuk Kulit Buah Nanas untuk Pengendalian Cacing Haemonchus contortus pada Domba. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. 934 – 940.

Coles, G.C., F. Jackson, W.E. Pomroy, R.K. Prichard, G. von Samson-Himmelstjerna, A. Silvestre, M.A. Taylor, and J. Vercruysse. 2006. The Detection of Anthelmintic Resistance in Nematodes of Veterinary Importance. Veterinary Parasitology. 136: 167 - 185.

Eguale, T., G. Tilahun, A. Debella, A. Feleke, and E. Makonnen. 2007. In Vitro and In Vivo Anthelmintic Activity of Crude Extracts of Coriandrum sativum Against Haemonchus contortus. Journal of Ethnopharmacology. 110: 428 - 433.

Odhong, C., R.G. Wahome, M. Vaarst, S. Nalubwama, M. Kiggundu, N. Halberg, and S. Githigia. 2014. In Vitro Anthelmintic Effects of Crude Aqueous Extracts of Tephrosia vogelii, Tephrosia villosa, and Carica papaya Leaves and Seeds. African Journal of Biotechnology. 13: 4667 - 4672.

Haryuningtyas, D. 2008. Perkembangan Metode Deteksi Resistensi Cacing Nematoda Gastrointestinal pada Ternak terhadap Antelmentika. Wartazoa. 18: 25 - 33.

Hoste, H., J.F.J. Torres-Acosta, C.A. Sandoval-Castro, I. Mueller-Harvey, S. Sotiraki, H. Louvandini, S.M. Thamsborg, and T.H. Terrill. 2015. Tannin Containing Legume as a Model for Neutraceuticals Against Digestive Parasites in Livestock. Veterinary Parasitology. 212: 5 – 17.

 

 Sumber : Majalah Infovet Edisi 280-November 2017

|


Artikel Sejenis