Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2016 = 4,43 (skala 0-5) | Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 2016 = 79,83 | Apa itu gratifikasi? Mari mengenal untuk menghindari      ***       Menemukan indikasi tindak korupsi? LAPORKAN !!
[show]  [hide]  [show-banner]

Program Pakan dan Nutrisi Ternak

Pada saat negara-negara maju mengalami krisis ekonomi global dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, Indonesia terus mengalami perbaikan untuk rasio hutang negara terhadap PDB dari 89% tahun 2000 menjadi 25% pada tahun 2011 dan diikuti dengan peningkatan cadangan devisa dari 34,7 USD miliar pada tahun 2005 menjadi 122,7 USD miliar pada tahun 2011 (Menteri Keuangan, Bank Indonesia). Dalam masterplan ekonomi, Indonesia diproyeksikan akan menjadi negara High Income pada tahun 2025 dengan GDP per kapita sebesar 14.900 USD (KEN, Proyeksi Ekonomi Indonesia 2011-2045). Sementara itu, isu ketahanan pangan dan nutrisi global menjadi tendensi penting bagi Food and Agriculture Organization (FAO), sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk dan perubahan iklim yang berimbas pada keterbatasan lahan pertanian, perubahan gaya hidup, dan pola makan masyarakat. Rentang waktu 1999-2011, telah terjadi peningkatan konsumsi protein dari kelompok makanan daging sebesar 106,8%, ikan 32,1% serta telur‐susu 127%. Sementara protein dari padi‐padian dalam periode tersebut justru turun 14%. Hal tersebut menandakan semakin tingginya konsumsi terhadap kelompok makanan non padi termasuk salah satunya daging.

Perubahan gaya hidup ini semakin meningkatkan angka Noncommunicable Diseases (NCDs) atau penyakit tidak menular seperti jantung, kanker, dan diabetes (World Health Organization/WHO). Kebutuhan produk pangan yang aman, sehat, utuh, dan halal, terutama sumber protein (daging, susu, dan telur) yang berasal dari hewan menjadi tuntutan saat ini (Pasal 78 UU no 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan). Di Indonesia, tuntutan ketahanan dan kemanan pangan lima tahun ke depan (2015-2019) juga tersirat dalam penjelasan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) III tahun 2015-2019, untuk meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat. RPJM  ke-3  (2015–2019)  ditujukan  untuk  lebih  memantapkan  pembangunan secara  menyeluruh  di  berbagai  bidang  dengan  menekankan  pencapaian  daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan iptek yang terus meningkat. Kajian ethnoveterinary menjadi salah satu peluang pemanfaatan tanaman obat untuk meningkatkan kekebalan dan mengatasi penyakit ternak dengan berbasis pada kearifan lokal di masyarakat.

Konsumsi daging sapi di Indonesia mempunyai tren meningkat. Sementara itu, produksi daging sapi masih belum mampu memenuhi semua kebutuhan konsumsi daging domestik. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan (2011), populasi sapi potong di Indonesia mencapai 14,8 juta ekor yang sebagian besar (61,86%) tersebar di lima propinsi. Pada tahun 2012 impor daging sapi mencapai 283.000 ekor atau sebesar 18% dari total kebutuhan daging domestik. Kondisi tersebut masih belum mampu mencukupi kebutuhan daging nasional dan belum sesuai target swasembada daging sapi nasional (2014) yang mentolerir impor daging sapi sebesar 5‐10% dari total kebutuhan daging sapi domestik. Swasembada daging sapi nasional yang ditargetkan tahun 2014 pada hakikatnya mendorong kemandirian penyediaan daging sapi dari peternakan domestik tanpa bertumpu sepenuhnya pada impor daging. Sekitar 56% dari konsumsi daging di Indonesia berasal dari unggas, lebih tinggi dibandingkan dengan angka konsumsi daging sapi yang hanya 23 persen. Walaupun demikian, angka konsumsi daging unggas yang hanya setara 4,5 kilogram per kapita per tahun jauh lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi daging negara-negara lain khususnya di ASEAN seperti Malaysia (±38,5 kg/kapita/tahun) atau Singapura (±48 kg/kapita/tahun) (Poultry Indonesia, 2011).

Data BPS selama kurun waktu 1999 – 2011 menunjukkan terjadi peningkatan konsumsi protein hewan, kecenderungan impor ternak dan produk ternak terus turun dan iklim investasi peternakan makin baik dan didukung oleh perundangan-undangan yang mendukung tumbuhnya industri peternakan baik mikro maupun makro. Perkembangan sektor peternakan menyebabkan perubahan konsumsi masyarakat dari sumber kalori berbasis karbohidrat menjadi berbasis kandungan protein tinggi. Salah satu faktor penyebab minimnya produksi daging unggas adalah masalah penyakit. Penyakit pencernaan menjadi perhatian dalam industri peternakan khususnya unggas, karena dapat menurunkan produktivitas, meningkatkan angka kematian dan menyebabkan kontaminasi produk peternakan untuk konsumsi manusia (terkait dengan isu keamanan pangan). Dengan tingginya perhatian terhadap kejadian resistensi antibiotik maka terjadi peningkatan upaya pencarian alternatif pengganti antibiotik untuk produksi ternak. Probiotik dan prebiotik adalah dua dari beberapa pendekatan yang berpotensi untuk mengurangi kasus penyakit pada unggas dan kontaminasi produk peternakan (Patterson dan Burkholder, 2003).

Kebutuhan pakan dan obat - obat terus mengalami peningkatan. Penggunaan obat-obatan dari bahan kimia sintetik atau antibiotik sudah mulai dibatasi dan dilakukan pelarangan di beberapa negara maju karena tingginya kejadian resistensi bakteri pathogen yang beresiko pada kesehatan manusia akibat kontaminasi pathogen maupun residu antibiotik dalam produk ternak. Tahun 2002, USDA menerapkan pelarangan antibiotik pada budidaya ternak organik disusul Uni Eropa pada tahun 2006 menerapkan pelarangan antibiotik dalam suplemen pakan. Hasil kajian pada tahun 2011, menunjukkan kecenderungan konsumsi pangan asal ternak konsumen Indonesian mengutamakan pangan asal ternak yang sehat/higienis, harga relatif rendah, mudah dijangkau/tersedia (ACIAR report, Deblitz, 2011). Pengembangan obat hewan seperti sediaan biologik, farmakoseutika, premiks, dan obat alami di dalam negeri juga dilindungi pemerintah dan diatur dalam Undang-Undang No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dalam RPJMN 2010 upaya-upaya pengembangan Industri dan UMKM diarahkan untuk menjadikan para pelaku ekonomi yang memiliki kemampuan usaha yang berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan berdaya saing (BAPPENAS, 2010). Penelitian pengembangan aditif UPT BPPTK-LIPI program pakan dan nutrisi ternak tahun 2010 – 2014 telah dihasilkan produk aditif ternak yang sudah menjadi contoh produk dan siap untuk dikomersialisasikan, yang akan didukung dengan sertifikasi produk, standarisasi proses produksi dan analisis teknoekonomi (bisnisplan). Program pakan dan nutrisi ternak di tahun 2015-2019 akan memfokuskan kegiatan pada pengembangan aditif pakan dari mikrobia untuk ternak unggas, pengembangan imbuhan organik berbasis konsorsium mikroba untuk ternak ruminansia perah, pengembangan aditif pakan dari bahan alam berdasarkan kajian ethnoveterinary untuk ternak unggas, dan produksi aditif pakan yang telah siap dikomersialkan. Sinergi kegiatan juga dilakukan dengan program kimia dan teknik lingkungan terkait ekstrak standar untuk aditif pakan.
 
Tujuan Program
Tujuan Program Pakan dan Nutrisi Ternak yang telah ditetapkan untuk dicapai pada akhir 2019 meliputi:

  1. Pengembangan aditif pakan dari mikroba untuk ternak unggas dalam upaya peningkatan produktivitas,
  2. Pengembangan imbuhan organik berbasis konsorsium mikroba untuk produktivitas dan pencegahan acidosis ternak ruminansia perah,
  3. Pengembangan aditif pakan dari bahan alam berdasarkan kajian ethnoveterinary untuk ternak unggas dalam upaya peningkatan produktivitas ternak,
  4. Produksi skala terbatas aditif sesuai standar Good Manufacturing Practices (GMP), efisiensi produksi, kajian teknoekonomi dan sertifikasi produk.

 

 

 

workimg

Silase

Ketersediaan pakan ternak ruminansia sangat penting dalam proses pemeliharaan hewan ternak.  Permasalahan yang mucul dalam penyediaan pakan ternak di daerah tertentu adalah terbatasnya jumla ...

Read More...

workimg

Lemofit

Permasalahan teknis yang sering dihadapi peternakan khususnya ternak ruminansia salah satunya adalah tingkat konsumsi pakan yang rendah sehingga pakan yang diberikan banyak terbuang. Hal tersebut ...

Read More...

workimg

Produk Bioaditif Pakan Ternak

  Majalah TROBOS Oktober 2014   Isu keamanan pangan sudah menjadi tuntutan global. Penggunaan antibiotik sintetis masih kerap digunakan dengan cara dicampur pada pakan. Dikhawatirk ...

Read More...

workimg

Antibiotik Organik untuk Unggas

GUNUNGKIDUL, KOMPAS Unit Pengelola Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Gunungkidul, Yogyakarta, mengembangkan suplemen pakan sekaligus antibiot ...

Read More...

workimg

Silase Pakan Komplit

  Masalah pemenuhan pakan ternak merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi daging sapi. Masalah pakan ternak sapi antara lain disebabkan oleh menyempitnya lahan tumbuh pakan, musim kemarau ...

Read More...

Call for Paper: ICONPROBIOS-2017

Dear researchers and scientists across the globe, Research Unit for Natural Product Technology, Indonesian Institute of Sciences (BPTBA LIPI) is pleased to be able to invite you to “The Interna ...

Read ...

Mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Berlatih tentang Nutrisi Ternak di BPPTK LIPI

Gunungkidul – Sebanyak 13 orang mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Mercu Buana Yogyakarta melakukan kunjungan ke Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia LIPI (BPPTK LIPI) Gunungki ...

Read ...

Pekan Teknologi (Open House) BPPTK LIPI

Kegiatan berlangsung pada 2 - 13 November 2015. Tempat: UPT BPPTK LIPI Kegiatan:  Forum IPTEKDA dan UKM Bedah Buku Pameran produk UKM binaan LIPI Workshop Pengolahan Perikanan Seminar F ...

Read ...

Tiga Hari Mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta Berlatih Pembuatan Pakan Aditif di UPT BPPTK LIPI

Gunungkidul Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Mercu Buana Yogyakarta melakukan kunjungan ke UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia LIPI (UPT BPPTK LIPI) Gunungkidul. Kegiatan ku ...

Read ...

Seminar Kerjasama BAPPEDA - UPT BPPTK LIPI

Gunungkidul � Kamis, 28 November 2013, BAPPEDA Pemkab Gunungkidul bersama-sama dengan UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) menyelenggarakan ...

Read ...

Gelar Pelatihan dan Membuat Silase Komplit

Lombok Post, Edisi 31 Oktober  2012 Giri Menang Program Bumi Sejuta Sapi (BSS) dalam mewujudkan swasembada daging nasional, tentu memerlukan komitmen seluruh stakeholders terkait peterna ...

Read ...

Suplemen Pakan Berbahan Tepung Cacing

INFOVET, Kolom Info Iptek, Hal. 54-55   Tahun 2002 para peneliti di bidang Pakan dan Nutrisi Ternak Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahu ...

Read ...

Read More

Comprehensive detection of bacterial carbohydrate-active enzyme coding genes expressed in cow rumen

By: Takumi Shinkai, Makoto Mitsumori, Ahmad Sofyan, Hiroyuki Kanamori, Harumi Sasaki, Yuichi Katayose, Akio Takenaka   To find the abundant and characteristic fibrolytic enzyme-coding gene expr ...

Read ...

Membangun Peternakan Dengan Kekuatan Sosial

Bukan lagi soal teknis. Peternak akan berdaya, jika menghimpun diri dan memiliki seorang leader yang visioner. Republik ini tidak pernah kekurangan orang untuk menciptakan inovasi dan temuan mengagum ...

Read ...

NUTRIGENOMIK, Jembatan Antara Ilmu Nutrisi dan Genetik

Beberapa penelitian di bidang nutrisi ternak banyak mengeksplorasi terkait defisiensi ataupun kelebihan dari beberapa komponen nutrisi yang dapat menyebabkan penyakit pada ternak, yang selanjutnya ber ...

Read ...

Tips dan Trik Pembuatan Silase Limbah Kulit Buah Kakao

Oleh: Ayu Septi Anggraeni Proses ensilase yaitu pengolahan pakan dengan teknik fermentasi pada prinsipnya mempunyai tujuan untuk mengawetkan bahan pakan, hal ini sesuai dengan pendpat Krisnan et al., ...

Read ...

Potensi Limbah Kulit Buah Kakao sebagai Pakan Silase untuk Kambing

Oleh: Ayu Septi Anggraeni Indonesia tercatat sebagai negara ketiga terbesar di dunia untuk komoditas buah kakao setelah Pantai Gading dan Ghana dengan luas areal tanam pada tahun 2008 adalah 1.473.25 ...

Read ...

Teknik Perawatan Mesin Industri

Teknik Perawatan Mesin Industri adalah sesuatu system kegiatan untuk menjaga, memelihara, mempertahankan, mengembangkan dan memaksimalkan daya guna dari segala sarana yang ada di dalam suatu beng ...

Read ...

Kimia Hijau / Green Chemistry

Green chemistry atau “kimia hijau” merupakan bidang kimia yang berfokus pada pencegahan polusi. Pada awal 1990-an, green chemistry mulai dikenal secara global setelah Environmental Protect ...

Read ...

Aplikasi Enzim Fitase pada Pabrik Pakan Unggas

  Pakan ternak bersumber biji-bijian seperti jagung, limbah pengolahan padi (dedak) dan limbah agroindustri lainnya umum dikonsumsi ternak unggas karena mengandung nutrisi tinggi, namun disisi l ...

Read ...

PENGGUNAAN TEKNOLOGI NEAR INFRA RED (NIR) DALAM MENGEVALUASI PAKAN

Pendahuluan Sejak dikembangkannya teknologi spektroskopi menggunakan  panjang  gelombang Near infra Red/NIR (1100 – 2500 nm) pada awal tahun 1960, sudah banyak bidang kehidupan yang t ...

Read ...

Read More

Meet the Team

Ahmad Sofyan, M.Sc

peneliti, lab-pakan

Pria yang lahir di Pati pada 1979-10-05 ini sedang menempuh pendidikan Doktoral di Univ. Tsukuba Jepang. Beliau pakar di bidang nutrisi dan makanan ternak. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya di S2 Peternakan UGM

Andi Febrisiantosa, M.Sc

peneliti, lab-pakan

Pria yang lahir di Cirebon pada 1982-02-25 ini pakar dibidang teknologi hasil ternak. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya di S2 Ilmu Ternak IPB

Awistaros Angger Sakti, S.Pt

peneliti, lab-pakan

Pria yang lahir di Semarang pada 1988-03-26 ini orang yang memiliki kepakaran pada bidang ilmu ternak.. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya di S1 Universitas Gadjah Mada

Ayu Septi Anggraeni, MSi., MAgrSc

peneliti, lab-pakan

Wanita yang lahir di Magelang pada 1987-09-24 ini pakar dibidang produksi ternak. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya di S2 Universitas Diponegoro & Huazhong Agricultural University (DD)

drh. Ade Erma Suryani

peneliti, lab-pakan

Wanita yang lahir di Bengkulu pada 1982-10-02 ini memiliki kepakaran pada bidang Kedokteran Hewan. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya di Pendidikan Dokter Hewan Unair

drh. Mohammad Faiz Karimy

peneliti, lab-pakan

Pria yang lahir di Surabaya pada 0000-00-00 ini sedang menempuh pendidikan S2 di Bioteknologi UGM. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya di D3 KESEHATAN TERNAK TERPADU (A.Md), S1 KEDOKTERAN HEWAN (S.KH), S1-PROFESI KEDOKTERAN HEWAN (drh)

Ema Damayanti, M.Biotech

peneliti, lab-pakan

Wanita yang lahir di Cilacap pada 1980-12-19 ini pakar di bidang bioteknologi. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya di S2 Bioteknologi UGM

Hardi Julendra, M.Sc

kepala, peneliti, lab-pakan

Pria yang lahir di Bukittinggi pada 1957-12-21 ini pakar di bidang teknologi ternak. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya di S2 Peternakan UGM

Hendra Herdian, M.Sc

peneliti, lab-pakan

Pria yang lahir di Bandung pada 1968-12-21 ini pakar di bidang teknologi pakan. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya di S2 Universitas Gadjah Mada

Lusty Istiqomah, M.Biotech

Kepala-Lab, peneliti, lab-pakan

Wanita yang lahir di Jakarta pada 1983-05-04 ini pakar dibidang bioteknologi. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya di S2 Bioteknologi UGM

Mulyono

teknisi, lab-pakan

Pria yang lahir di Gunungkidul pada 1960-02-03 ini merupakan teknisi bidang pakan. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya di D3 Institut Teknologi Bandung

Muslih Anwar, M.Sc

peneliti, lab-pakan

Pria yang lahir di Bantul pada 1986-09-16 ini memiliki kepakaran pada bidang Sintesis Kimia. Beliau telah menyelesaikan pendidikannya di S2 Kimia UGM

Tweet |